SPEKTRUM
PESTA RAKYAT ITU BERNAMA PEKAN RAYA JAKARTA
Oleh: Arie Novarina
Sejak tahun 1968, untuk memperingati ulang tahun DKI Jakarta, sebuah perhelatan besar digelar yaitu Pekan Raya Jakarta di Monas, Jakarta Pusat.
Awalnya bernama "Djakarta Fair", pameran tahunan terbesar di Indonesia itu lama kelamaan berubah namanya menjadi Jakarta Fair (ejaan baru) yang kemudian berubah menjadi Pekan Raya Jakarta (PRJ).
Meskipun dinamai "pekan" namun pelaksanaannya berlangsung selama sebulan, mulai pertengahan Juni hingga pertengahan Juli setiap tahun.
Begitu pula tahun 2008 ini dimana PRJ kembali digelar tanggal 12 Juni hingga 13 Juli yang akan datang.
Sesuai tradisi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan meresmikan ajang tahunan tersebut, seperti yang dilakukan Presiden Soeharto pada tahun 1968 yang melepaskan beberapa merpati pos sebagai tanda pembukaan pameran.
Sebanyak 1.600 pedagang telah menyatakan ikut serta dalam PRJ 2008 yang mengambil tema "Melalui Jakarta Fair, Marilah Kita Saling Mengisi, Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia."
Bertambah sekitar 500 pedagang dari tahun sebelumnya, PRJ 2008 diharapkan dapat menyedot pengunjung sebanyak tiga juta orang dengan total transaksi diharapkan melampaui angka Rp1 triliun.
Tahun lalu, ajang itu menarik 2,5 juta pengunjung dan transaksi diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.
Namun kenaikan harga BBM pada 24 Mei yang lalu tak urung membuat daya beli masyarakat menurun sehingga Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo merasa perlu mengingatkan pengelola PRJ, PT Jakarta International Expo (PT JIE) untuk mengusahakan diskon tambahan bagi "pesta" diskon itu.
"Saya minta kepada para eksekutor dan para retail agar tidak hanya memberikan harga promosi di sana. Selama ini memang diberikan harga promosi tapi saya minta agar diberikan harga promosi plus diskon sehingga dalam keadaan yang sulit, masyarakat bisa mendapatkan harga yang lebih baik, lebih kompetitif di situ," kata Gubernur.
Selain memberikan diskon, pihak pengelola juga menjawab "tantangan" itu dengan menyediakan pasar murah khusus bagi para pemegang kartu Bantuan Langsung Tunai (BLT) Jakarta yang mencapai 157.515 orang.
"Pasar murah ini khusus untuk pemegang kartu BLT. Untuk dapat berbelanja, harus menunjukkan kartu BLT dan tidak dapat diwakilkan," kata Ketua Panitia PRJ 2008 sekaligus Presiden Direktur PT JIE Hartati Murdaya.
Ia menyebut pihaknya menghimbau pabrik-pabrik yang memproduksi barang konsumsi untuk dapat berpartisipasi dalam program tersebut.
Sementara untuk pengunjung biasa, Hartati memastikan bahwa PRJ akan tetap memanjakan mereka dengan beragam produk yang dijual dengan harga diskon.
Untuk lebih menarik pengunjung berbondong-bondong ke arena PRJ, panitia juga memutuskan untuk tidak menaikkan tiket masuk bagi pengunjung.
Tiket masuk PRJ dipatok sebesar Rp15.000 pada hari Senin-Jumat dan Rp20.000 pada Sabtu-Minggu, dengan harga khusus bagi beberapa golongan masyarakat seperti lansia, anak-anak, TNI dan yayasan.
Dan untuk semakin memeriahkan suasana, puluhan grup band juga akan tampil di beberapa panggung yang tersebar diseluruh arena, mulai dari grup band yang sudah ternama seperti Gigi, Kerispatih, Nidji, Dewa dan lain-lain serta grup band baru.
Hartati juga membanggakan ikon PRJ 2008 yakni replika Candi Borobudur yang dibangun di depan arena Pasar Gambir berukuran 40x10 meter.
"Di replika ini, pengunjung dipersilahkan untuk foto-foto sepuasnya. Tapi asal diingat agar tidak menginjak replika ini, karena dibangun dari gabus," kata Hartati.
Salah satu ikon Jakarta yang lain juga dikerahkan untuk semakin memeriahkan pelaksanaan PRJ yakni moda transportasi "busway" Transjakarta.
Jika pada hari normal, belum ada rute busway yang melalui arena PRJ, namun beberapa bus Transjakarta akan disiapkan untuk mengangkut penumpang ke kawasan itu.
Busway itu akan menunggu pengunjung di halte Monas dan akan melewati halte antara lain halte Gambir, Istiqlal dan Juanda serta melintasi jalan Garuda, Jl. Benyamin Sueb dan berakhir di halte khusus Gambir Expo.
Awal Pasar Malam
PRJ pertama diadakan pada tahun 1968 di Taman Monumen Nasional (Monas) hingga tahun 1991.
Semakin diminatinya pameran tersebut membuat Pemprov DKI berinisiatif memindahkan PRJ dari Taman Monas yang hanya seluas tujuh hektar ke kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat seluas 44 hektar.
Ide "menyatukan berbagai pasar malam di Jakarta" itu pertama kali dimunculkan oleh Pemerintah DKI yang kala itu dipimpin oleh Gubernur Ali Sadikin (almarhum) pada tahun 1967.
Bang Ali (panggilan akrab Ali Sadikin) menginginkan untuk membuat suatu pameran besar yang terpusat dan berlangsung dalam waktu yang lama.
Pemprov kemudian membentuk panitia sementara yang dipercayakan kepada Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Kemudian, agar lebih sah atau resmi, Pemprov menetapkan Peraturan Daerah (Perda) No.8 Tahun 1968 yang antara lain menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.
Sebuah yayasan yang diberikan nama Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta juga dibentuk sebagai badan pengelola PRJ.
Sesuai Perda No.8/1968 tersebut tugas yayasan ini bukan hanya menyelenggarakan PRJ saja tetapi juga sebagai penyelenggara Arena promosi dan Hiburan Jakarta (APHJ) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun.
Umumnya, PRJ berlangsung selama 30-35 hari namun PRJ 1969 memecahkan rekor penyelenggaraan terlama yakni 71 hari.
Dalam 41 tahun penyelenggaraan PRJ, arena pasar malam itu lambat laun bermutasi menjadi ajang pameran modern.
Dari sekedar menawarkan produk-produk konsumsi, PRJ kemudian mulai memunculkan panggung hiburan, mengikuti perkembangan jaman dan permintaan masyarakat.
Munculnya kafe dan "tempat nongkrong" lainnya juga membuat PRJ semakin menarik bagi anak muda yang pada akhirnya diharapkan dapat menambah transaksi bagi para peserta pameran.
Satu hal unik lainnya yang sangat lekat dengan PRJ adalah makanan tradisional kerak telor yang banyak dijual di ajang pameran.
Pihak pengelola selalu memberikan tempat bagi makanan khas Jakarta itu sehingga tak ayal, pengunjung pun kerap mengasosiasikan kerak telor dengan PRJ, seperti Ika Candra (36), warga Depok.
"Yang saya tunggu di PRJ itu kerak telornya, karena kalau diluar PRJ entah kenapa, tidak tertarik buat makan," katanya.
***5***
(T.A043*M011)
(T.A043/A/M011/C/M011) 10-06-2008 14:35:20
NNNN
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

No comments:
Post a Comment