Friday, July 4, 2008

KELANGKAAN ELPIJI DKI SUDAH DIATASI

2800587 5/28/2008 20:34:37
IBUKOTA DAN DAERAH

KELANGKAAN ELPIJI DKI SUDAH DIATASI

Jakarta, 28/5 (ANTARA) - Pertamina menyatakan kelangkaan elpiji yang melanda DKI Jakarta selama beberapa hari terakhir sudah dapat diatasi setelah pipa gas Balongan diperbaiki.
"Kelangkaan (elpiji) yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya diakibatkan kerusakan dari suplai Balongan. Jadi hanya menggunakan yang di Tanjung Priok," kata Juru Bicara Pertamina Pusat, Wisnuntoro di Balaikota, Rabu.
Kelangkaan pasokan terjadi karena suplai Tanjung Priok juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan gas di Bandung, Jawa Barat namun Wisnu menyebut kerusakan pipa tersebut sudah dapat diperbaiki dan sejak 21 Mei yang lalu, suplai dari Balongan sudah lancar.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan kekecewaannya terhadap Pertamina akibat kelangkaan pasokan tersebut.
Sebabnya adalah ketika DKI Jakarta melakukan program konversi minyak tanah ke elpiji, Gubernur sudah meminta jaminan dari Pertamina mengenai suplai tersebut.
"Kan saya minta jaminan suplai gasnya tidak akan terkendala. Orang 'habis-habisan' soal konversi ini karena dapat jaminan itu. Sekarang tentu saya berpegang pada jaminan itu," katanya.
Gubernur mengingatkan bahwa pasokan gas tersebut merupakan hal yang penting untuk kesuksesan program konversi minyak tanah.
"Jangan sampai programnya sudah jalan lalu suplainya dibatasi," katanya.
Sementara itu, Wisnu mencurigai adanya penimbunan elpiji yang dilakukan pedagang dan agen gas yang disebabkan karena salah persepsi.
"Dengan kenaikan harga BBM, mereka mengira harga elpiji juga akan ikut naik. Padahal, Pertamina tidak akan menaikkan harga elpiji," katanya.
Wisnu menambahkan bahwa harga elpiji ukuran tiga kilogram tetap Rp12.750 dan ukuran 12 kilogram Rp51 ribu meskipun kebutuhan elpiji untuk Jakarta meningkat dua kali dari kondisi sebelum program konversi minyak tanah dijalankan.
Sebelumnya kebutuhan di Jakarta sebesar 1.900 ton perhari dan setelah ada konversi minyak tanah kebutuhan elpiji naik dua kali lipat menjadi 3.800 ton per hari.

(T.A043)
(T.A043/B/I011/I011) 28-05-2008 20:32:13
NNNN

Back

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA


2800638 5/28/2008 23:09:10
NATIONAL NEWS

LPG SCARCITY IN JAKARTA OVERCOME

Jakarta, May 28 (ANTARA) - State oil and gas company Pertamina said liquefied petroleum gas (LPG) in Jakarta is now no longer difficult to get after the gas pipeline in Balongan, which had been disrupted for the last couple days, had been repaired.
"LPG had been rather difficult to obtain in Jakarta and environments because of some damage of the gas pipeline in Balongan, and the only source of gas is Tanjung Priok," spokesman for the Pertamina head office Wisnuntoro said at City Hall on Wednesday.
Even with the source of LPG in Tanjung Priok helping LPG supplies for Jakarta, the condition has yet to be restored to normal because the source in Tandjung Priok also had supply its LPG to Bandung in West Java. The LPG supply from Balongan plant has been returned to normal since May 21.
In the meantime, Jakarta Governor Fauzi Bowo expressed disappointment to Pertamina over the LPT supply shortages, because at the time when Jakarta was busy implementing its kerosene to LPG conversion program, he asked Pertamina for a guaranteed supply.
"I have already asked for a guaranteed supply of LPG, and the public appeared to be keenly interested in this conversion project because of the guarantee. And now I am asking for Pertamina's accountability regarding its promise," he said.
The governor said that regular and unhindered LPT supply is very important to the success of the kerosene conversion program.
In the meantime, Wisnu suspected some gas merchants and agents have been hoarding the gas, which was only caused by a misperception.
"Apparently they thought that the fuel oil price hike would automatically also raised the price of LPG," he pointed out.
Wisnu said further that the price of a 3-kg LPG container remained at Rp12,750, and 12-kg container Rp 51 thousand, although demand for LPG in Jakarta had doubled the price prior to that prevailing before the implementation of the kerosene to LPG program.
Previously, demands in Jakarta reached 1,900 tons per day, and following the kerosene conversion program, demands for LPG had doubled to Rp 3,000 tons per day.
T.A043
(HNG/A/E002)
(T.SYS/A/H-NG/A/E002) 28-05-2008 23:06:46
NNNN

Back

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

No comments: